Jumat, 21 Maret 2014

1 jam kenangan


1 Jam Kenangan
 Terik matahari pagi menyinari wajah mulus Zayn yang sedang berjalan menuju sekolahnya. Jarak sekolahnya tidak jauh dari rumahnya. Zayn adalah siswa kelas 2 di Tong High School. Nama lengkapnya Zayn Javadd Malik. Dia sangat hobi menggambar. Hobi itu dia dapat dari ayahnya. Tubuhnya tinggi, tidak kurus dan tidak gemuk. Model rambutnya sangat khas. Jambul lancip.
Sampai di sekolah, Zayn langsung menuju kelasnya yang berada di pojok kanan lantai 2. Ketika ingin melangkahkan kaki ke tangga, ada suara cewek yang memanggil namanya.
“Zaaaaaayn, tunggu sebentar!”seru cewek itu.
Zayn yang terpanggil meghentikan langkahnya.
“Hai,Perrie. Ada apa?”tanya Zayn sambil tersenyum
Perrie itu teman satu ekskul Zayn. Zayn menyukai Perrie sejak awal bertemu. Zayn bilang Perrie itu unik. Dia beda dari cewek-cewek lainnya.
“Aku cuma mau bilang kalo hari ini kita kumpul ekskul”kata Perrie.
“Oh oke. Dimana?”
“Kayak biasa di perpustakaan”
“Siap bos hehe”
“Ah kamu bisa aja. Hehe”
Setelah memberi tahu Zayn, Perrie meninggalkan Zayn dan langsung menuju kelasnya. Sepeninggal Perrie, Zayn masih tersenyum di tangga. Suara bel yang berada tepat di atas Zayn mengagetkannya. Untung ada suara bel. Coba kalau nggak ada? Zayn bakalan  tetep disitu sambil senyam-senyum kayak orang gila.
========================================
Hari ini di kelas ada ujian matematika. Harry lupa untuk belajar. Harry Styles adalah anak yang termasuk rajin di kelas. Baru kali ini dia tidak belajar untuk ujian matematika.
“Aduh gimana nih, gue belum belajar. Mampus deh gue.”batin Harry.
Pak John langsung membagikan kertas ulangan ke setiap bangku. Wajah Harry terlihat sangat ketakutan. Dia memikirkan bagaimana nanti nilai yang akan dia dapat. Harry menggaruk-garukan kepalanya. Itu membuat Pak John bertanya-tanya.
“Harry, kamu kenapa?”tanya Pak John.
“Eh, mmm nggak apa-apa kok, Pak.”jawab Harry.
Pak John hanya geleng-geleng kepala dan duduk di tempatnya. Harry langsung membuka soal matematika yang baru saja dibagikan. Dia menelan ludah.
“Ya Tuhan ini kan persis banget sama yang minggu kemarin dibahas. Ah coba kalo gue belajar. Pasti gue bisa”gerutunya dalam hati.
Harry hanya bisa pasrah dengan hasil ujiannya kali ini. Dia yakin sekali akan dapat nilai dibawah rata-rata. Dari 10 soal dia hanya menjawab 3. Itupun belum tentu benar. Harry yang frustasi langsung menuju kantin ketika bel istirahat berbunyi.
========================================
Hari ini sekolah Zayn pulang cepat. Guru-guru akan menghadiri pernikahan anak dari kepala sekolah. Ketika bel pulang berbunyi, Zayn langsung menuju perpustakaan.
Di perpustakaan sudah ada Perrie dan beberapa anggota ekskul lainnya. Zayn yang tahu langsung tersenyum bahagia dan menghampiri Perrie.
“Hai udah ada di perpus aja nih”kata Zayn
“Iya. Tadi kebetulan dari pagi nggak ada guru yang masuk. Jadi aku kesini aja deh”jelas Perrie
“Oh gitu”
Tidak lama kemudian, satu per satu anggota lain berdatangan. Perpustakaan jadi penuh dengan anak-anak ekskul bahasa inggris.
“Udah kumpul semua kan? Kalo gitu kita mulai aja ya”kata Perrie.
Semua anggota termasuk Zayn mengiyakan ucapan Perrie. Perrie adalah ketua ekskul ini. Sedangkan Zayn hanya menjadi anggota. Dia tidak senang mendapat jabatan. Itu akan menambah pusing saja katanya.
“Maksud aku mengumpulkan kalian kesini soalnya aku dapet info dari Miss Sera kalo minggu depan akan ada english competition”jelas Perrie.
“Apa yang bakal di kompetisikan kak?”tanya salah satu anggota yang merupakan adik kelas Perrie.
“Banyak. Ada pidato, menyanyi, puisi, bercerita, dan menulis. Aku ingin semua anggota disini ikut kompetisi itu.”
“Kalo gitu aku pengen ikut komepetisi menyanyi”kata Zayn.
“Boleh aja. Kalian tinggal tulis nama kalian dan kompetisi apa yang akan diikuti di kertas selembar. Lalu kasihkan ke Gemma.”jelas Perrie lagi.
========================================
Sepulang sekolah, Harry pergi ke kafe langganannya. Dia masih memikirkan ujian matematika tadi siang. Harry menghela nafas. Harry memesan luwak ice coffee kesukaannya. Hanya menunggu 5 menit pesanannya sudah diantarkan. Selain pesanannya dia mendapat brosur penuh warna dari pelayan itu. Dia mengambil lalu membacanya. Isi brosur itu adalah English Competition. Harry yang hobi bernyanyi langsung bertekad bulat untuk ikut kompetisi kategori menyanyi.
Harry meminum habis luwak ice coffee nya. Dia langsung bergegas ke tempat pendaftaran kompetisi itu.
========================================
Zayn menghabiskan hari minggunya dengan latihan vokal di rumah. Dia satu-satu nya yang memilih kompetisi menyanyi di ekskul bahasa inggris. Maka dari itu dia berlatih sendiri. Beda dengan Perrie yang mengikuti kompetisi menulis. Menulis menjadi favorit di ekskul.
“Zayn, makan dulu. Nanti kamu sakit loh” kata Mama.
“Iya ma, tanggung nih.”
“Cepetan mama tunggu di meja makan ya”
Zayn memang cukup dimanjakan oleh Mamanya. Dia satu-satunya anak cowok dirumah. Kakak dan adik-adiknya semuanya cewek.
Selesai latihan,Zayn menuju meja makan. Disana sudah pada berkumpul.
“Bang, lama banget sih. Safaa udah laper tahu.”kata Safaa adiknya yang paling kecil.
“Iya maaf deh. Aku kan lagi latihan buat kompetisi minggu depan”jelas Zayn
“Emang kamu mau ikut kompetisi apa?”tanya Papa
“Kompetisi nyanyi, Pa”jawab Zayn.
“Emang suara lo bagus?”ledek Waliyha adik pertamanya.
“Heeeh jangan salah. Abangmu ini nggak kalah jauh sama Justin Bieber.”
Semua yang mendengar langsung tertawa. Zayn memang sedikit suka dengan Justin Bieber.
========================================
Hari ini hari adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Zayn. Iya. Hari ini adalah hari dimana kompetisi berlangsung. Zayn sangat semangat. Dia yakin akan memenangkan kompetisi ini.
Kompetisi menyanyi dijadwalkan di akhir acara. Itu dibuat sekalian untuk hiburan. Zayn mendapat urutan tampil ke 5 dari 20 peserta.
“Gue yakin banget bakal menang. Lo liat aja peserta yang lain. Nggak mutu semua”kata seorang cowok yang duduk di sebelah Zayn kepada temannya.
“Bener banget tuh, Har”kata temannya itu.
Cowok itu ternyata Harry. Dia datang bersama Jack teman sebangkunya. Zayn yang mendengar langsung tertawa.
“Kenapa lo ketawa? Ada yang lucu?”tanya Harry.
“Ada”jawab Zayn singkat.
“Apa? Apa yang lucu hah?”
“Lo yang lucu. Lo pede banget ya bakal menang. Pake ngatain gue sama yang lain lagi.”terang Zayn sembari cekikikan.
“Heh gue ngomong sesuai fakta ya.”
“Sesuai fakta gimana? Belum juga pengumuman. Jangan belagu deh lo.”
“Elo yang belagu!”bentak Harry.
Harry akan memukul Zayn tetapi terhenti karena giliran Zayn yang akan tampil.
“Awas lo ya. Urusan kita belom kelar!”ancam Harry.
“Gue nggak takut.”kata Zayn dengan senyum sinis.
Zayn naik ke atas panggung dengan sedikit emosi karena hal tadi. Dia menghela napas agar fokus pada kompetisi. Dia tidak ingin usahanya latihan setiap hari sia-sia karena Harry. Dia menyanyikan lagu. Perrie dan penonton lainnya bersorak sorai melihat penampilan Zayn.
“Apa bagusnya dia? Kampung!”cela Harry yang terlihat iri dengan Zayn yang mendapat tepuk tangan meriah dari para juri.
Zayn turun dari panggung. Kini giliran Harry yang tampil.
“Kalo lo bisa dapet tepuk tangan yang lebih meriah dari gue. Gue bakal turutin semua yang lo minta. Begitu juga sebaliknya”bisik Zayn pada Harry yang sedang berjalan menuju panggung.
Harry mengangguk mengiyakan omongan Zayn. Dia menatap Zayn yang mulai menjauhinya. Dia berambisi untuk menampilkan yang terbaik. Dia sudah punya rencana untuk membuat Zayn menderita.
Harry menyanyikan lagu. Suara Harry ternyata tidak kalah bagus dengan Zayn. Semua penonton terkesima dengan suara emasnya. Akan tetapi, Harry tidak puas dengan penampilannya. Dia gagal mendapatkan tepuk tangan yang lebih meriah dari Zayn. Dia turun dari panggung dengan kekecewaan.
“Kenapa lo? Kok sedih gitu? Penonton pada suka sama penampilan lo, Har.”tanya Jack.
Baru saja Harry ingin menjawab pertanyaan Jack. Zayn datang menghampiri mereka.
“Inget janji kita ya”kata Zayn dengan menepuk-nepuk bahu Harry.
“Lo janji apa sama dia?”tanya Jack lagi.
“Bukan urusan lo.”jawab Harry dan langsung meninggalkan Jack.
Di luar tempat kompetisi, Harry menemui Zayn yang sedang duduk di halte bersama Perrie.
“Hai. Duduk dulu.”pinta Zayn.
“Nggak usah basa-basi deh lo. Lo mau apa dari gue?”tanya Harry emosi.
Perrie heran dengan Harry yang tiba-tiba datang langsung emosi.
“Jangan emosi gitu dong. Duduk dulu. Kenalan dulu. Gue Zayn.”kata Zayn.
“Harry.”jawab Harry singkat.
“Oh Harry. Oh iya ini Perrie, temen gue.”
Perrie tersenyum manis kepada Harry. Akan tetapi Harry acuh padanya.
“Buruan deh lo mau apa. Gue sibuk.”kata Harry.
“Gue nggak minta yang aneh-aneh kok. Gue cuma mau minta lo minta maaf sama gue dan peserta lainnya.”
Harry terkejut Zayn meminta itu padanya. Dia sudah mengira Zayn akan meminta yang macam-macam padanya.
“Hah minta maaf? Gue salah apa emang?”tanya Harry.
Zayn menghela nafas.
“Lo udah ngatain gue dan peserta lainnya nggak bermutu.”
“Oh itu haha. Emang bener kan?”
Zayn melototi Harry.
“Oh oke. Sori ya Zayn soal tadi.”kata Harry.
“Lo juga minta maaf sama mereka.”pinta Zayn sambil menunjuk gerombolan peserta kompetisi menyanyi di sebelah Perrie.
“Woy semua gue minta maaf.”kata Harry dengan nada sedikit terpaksa.
Itu tidak menjadi masalah buat Zayn. Zayn dan peserta lainnya memaafkan Harry.
Hari sudah mulai malam. Zayn, Perrie, Harry, dan yang lainnya bergegas pulang. Pengumuman pemenang kompetisi akan diterbitkan di majalah Teen Time edisi lusa.
========================================
Di rumah, Harry masih kesal dengan Zayn. Mukanya ditekuk sedari pulang tadi.
“Kenapa lo? Kok bête gitu sih kayaknya?”tanya Gemma. Gemma adalah kakak Harry.
Harry tidak menjawab.
“Heh keriting. Jawab kaliiiii.”kata Gemma.
Harry tetap tidak bersuara.
“Adikku tersayang, kalo ada apa-apa cerita dong sama kakakmu yang cantik ini.”pinta Gemma.
Akhirnya Harry bersuara juga.
“Apaan sih lo. Jangan bikin gue tambah enek ya.”
“Lo kenapa sih?”tanya Gemma lagi.
“Gue kesel sama orang yang tadi di kompetisi.”kata Harry yang sepertinya akan mulai terbuka dengan Gemma. Harry itu sangat tertutup. Dia tidak pernah menceritakan masalahnya kepada orang lain termasuk keluarganya.
“Siapa? Temen lo?”
“Temen? Jangan sampe gue temenan sama dia.”
“Siapa sih emang?”
“Dia itu peserta kompetisi nyanyi juga kayak gue. Dia bikin kesel gue selama acara berlangsung. Namanya Zayn.”
Gemma terkejut ketika mendengar nama Zayn.
“Zayn? Zayn Malik?”tanya Gemma penasaran.
“Mana gue tahu nama lengkapnya. Yang pasti sih dia sedikit pendek dari gue, berjambul, dan dia juga punya temen namanya Perrie.”jelas Harry.
Benar saja dugaan Gemma. Zayn yang dimaksud adalah teman satu ekskulnya.
“Itu temen gue.”kata Gemma
“Hah? Zayn temen lo?”tanya Harry terkejut.
“Iya. Nggak nyangka ya lo? Haha. Dia sama Perrie itu temen satu ekskul gue. Seharusnya gue juga ikut kompetisi itu tapi lo kan tahu, gue mesti nemenin Mama ke rumah kakek.”jelas Gemma.
Harry mengangguk.
“Udah deh Har, lo jangan terus-terusan kesel sama dia apalagi sampe benci. Zayn itu temen baik gue. Dia itu care banget loh orangnya.”
Harry mulai meredam emosinya dan sepertinya mulai tertarik untuk berteman dengan Zayn. Apalagi Zayn memiliki suara yang sangat unik.
========================================
Gemma sudah siap untuk berangkat sekolah. Selesai sarapan dia langsung menuju mobil sedan biru miliknya. Selagi membuka pintu mobilnya, Harry memanggilnya.
“Gemma. Tunggu!”seru Harry.
Gemma menoleh kea rah adiknya itu.
“Ada apa? Lo mau bareng gue?”tanya Gemma.
“Nggak. Gue cuma mau minta tolong sama lo.”kata Harry.
“Minta tolong apa?”
“Tolong bilang ke Zayn. Pulang sekolah temuin gue di kafe Mozza.”pinta Harry yang membuat Gemma terheran-heran.
“Lo mau ngapain? Lo jangan macem-macem deh sama dia.”kata Gemma khawatir.
“Bego lo. Gamungkin kan gue berantem sama dia di kafe. Ada yang mau gue omongin sama dia.”
“Oh gitu. Awas ya lo. Siap deh keriting ntar gue sampein kok.”
Gemma langsung memasuki mobilnya dan berangkat menuju sekolah. Disusul Harry dengan mobil jeep hitamnya keluar dari rumah.
Di jalan, Harry berharap Zayn mau menerima ajakannya. Walaupun dia pikir Zayn pasti bingung kenapa tiba-tiba dia mengajak ketemuan di kafe.
========================================
Sesampainya di sekolah, Gemma memakirkan mobilnya di sebelah mobil Perrie. Ketika keluar dari mobil, dia melihat Zayn berjalan menuju kelasnya.
“Zayn”sapa Gemma.
Zayn yang tahu menoleh. Gemma yang melihat Zayn menoleh langsung berlari menghampiri Zayn.
“Ada apa, Ma?”tanya Zayn.
“Gue mau nyampein pesen adek gue.”kata Gemma.
“Adek lo? Siapa? Pesen apa emang?”tanya Zayn penasaran.
“Iya. Harry yang kemaren rebut sama lo di tempat kompetisi. Dia mau ketemu sama lo di kafe pulang sekolah.”jelas Gemma.
Zayn terkejut dengan omongan Gemma. Dia sama sekali nggak nyangka kalau Harry itu adik Gemma.
“Harry adek lo? Mau apa dia ketemu gue?”tanya Zayn lagi.
“Gue nggak tahu. Katanya sih ada yang mau diomongin.”jawab Gemma.
“Oh gitu. Oke gue bakal temuin dia. Kafe mana?”
“Kafe Mozza”
Hari ini hasil ujian matematika akan dibagikan. Setelah mendengar hal itu dari Pak John jantung Harry langsung berdebar-debar. Mukanya sangat gelisah. Jack heran dengan Harry yang baru kali ini dilihatnya tegang menunggu hasil ujian. Biasanya Harry selalu tenang dan yakin akan mendapat nilai besar.
Pak John mulai memanggil muridnya satu per satu. Nama Jack Peter dipanggil pertama. Jack mendapat nilai 98. Jack sangat bahagia soalnya dia itu lemah di matematika. Akan tetapi kali ini dia berhasil mendapatkan nilai di atas 50.
“Bagus, Jack. Kamu ada kemajuan. Nilai kamu juga paling besar untuk ulangan kali ini.”puji Pak John.
Harry nggak nyangka kalau Jack akan mengalahkannya kali ini. Setelah 10 orang dipanggil, nama Harry dipanggil oleh Pak John. Terlihat sekali wajahnya dipenuhi rasa kecewa.
“Maaf ya, Pak.”kata Harry pelan.
“Kamu sudah mengerti rupanya. Nggak apa-apa kok, Har. Yang penting jangan kamu ulangi lagi.”kata Pak John dengan nada pelan juga. Ternyata Pak John tidak ingin teman-teman Harry tahu kalau dia mendapat nilai 25.
Harry mengangguk dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Harry kembali ke tempat duduknya dengan perasaan lega. Dia nggak nyangka Pak John akan berbaik hati padanya.
Pelajaran dilanjutkan dengan bab yang baru lagi.
========================================
Sepulang sekolah, Zayn langsung menuju kafe Mozza. Dia belum melihat tanda-tanda Harry disana. Zayn memesan milk ice coffee terlebih dahulu sambil menunggu Harry.
Sudah hampir 2 jam Zayn menunggu Harry di sana. Akan tetapi Harry belum kelihatan juga batang hidungnya. Zayn mulai bepikir kalau Harry Cuma mengerjainya. Zayn sudah mulai bosan disana. Dia langsung menghabiskan minumannya dan bergegas pulang.
Baru saja Zayn berdiri, Harry menghampirinya dan menyuruhnya duduk lagi.
“Hai, Zayn. Sori gue telat, gue abis remedial matematika. Sori banget ya.”kata Harry.
Zayn menghela napas dan kembali duduk.
“Oke nggak masalah. Langsung aja deh. Lo mau ngomongin apa sama gue?”tanya Zayn yang sedari pagi sudah penasaran.
“Bentar dulu dong. Kasih gue napas dulu. Gue capek nih.”kata Harry
“Iya oke. Sori ya gue udah penasaran banget soalnya.”
“Haha. Sabar dong,Zayn. Gue mau pesen minum dulu.”
Harry memesan luwak ice coffee kesukaannya. Baru saja pesanan itu diantar, luwak ice coffee porsi besar itu langsung habis diteguk Harry. Cuaca pada saat itu memang sedang panas-panasnya. Wajar saja kalau Harry kehausan. Apalagi setelah bergumit dengan soal-soal remedial, dia langsung menuju ke kafe tanpa mampir sebentar ke kantin sekolahnya.
“Langsung aja nih ya karena lo udah penasaran banget. Gue mau ngajak lo gabung ke band gue.”jelas Harry.
“Band?”tanya Zayn.
“Iya. Band gue udah lama vakum karena vokalisnya ngundurin diri. Jadi gue pengen hidupin band gue lagi dengan lo sebagai vokalisnya. Lo mau kan?”tanya Harry
“Kenapa harus gue?”tanya Zayn lagi.
“Soalnya suara lo tuh unik. Gue rasa lo pantes buat hidupin musik band gue lagi.”jelas Harry.
“Lo kan punya suara yang bagus juga. Kenapa nggak lo aja?”tanya Zayn lagi yang kali ini bikin Harry emosi.
“Lo banyak nanya ya. Udah deh intinya lo mau apa enggak gabung ke band gue?”
Zayn tertawa.
“Sori sori gue masih nggak nyangka aja tiba-tiba lo ngajak gue buat gabung ke band lo. Gue terima ajakan lo.”
“Serius?”tanya Harry senang.
“Iya. Besok udah bisa latihan?”tanya Zayn
“Iya bisa kok. Besok lo dateng aja ke sekolah gue. Gue biasa latihan disitu.”
“Sekolah lo dimana?”
“Holmes Chapel Comprehensive School.”
Zayn mengangguk.
“Oke.”
========================================
Zayn masih nggak nyangka juga kalau Harry akan mengajaknya bergabung di band milik Harry. Dia tersenyum sendiri mengingat wajah Harry yang sangat senang ketika dirinya menerima ajakan itu.
Besoknya di sekolah, anak-anak menyambut Zayn datang dengan meriah.
“Ada apa ini? Heboh banget.”kata Zayn dalam hati.
Saat akan masuk kelasnya, Perrie memanggilnya dan mengucapkan selamat padanya.
“Selamat ya, Zayn. Kamu menang di kompetisi menyanyi kemaren lusa.”
“Oh ya? Alhamdulillah. Kamu tahu darimana?”tanya Zayn yang sangat senang mendapat kabar bahagia dari Perrie.
“Majalah Teen Time. Hadiahnya ada di Miss Sera.”
Zayn meraih juara pertama. Dia mendapatkan 5 juta rupiah dan paket perlengkapan sekolah. Perrie juga berhasil dalam kompetisi itu. Akan tetapi dia hanya meraih juara ketiga.
“Aku cuma dapet juara ketiga.”kata Perrie.
“Itu hebat, Perrie.”puji Zayn.
“Iya tapi aku sangat berharap bisa mendapat juara pertama kayak kamu.”
Wajah Perrie terlihat sangat sedih. Zayn berusaha menghiburnya.
“Kamu harus tetap bersyukur. Menurutku kamu sangat hebat dalam menulis.”
“Kamu bener, Zayn. Makasih ya.”
Zayn mengangguk dan sangat senang melihat orang yang dicintainya itu tersenyum lagi.
Sepulang sekolah, Zayn langsung menuju ke sekolah Harry. Beruntung dia melihat Harry di depan sekolah. Coba kalau Harry nggak ada di depan sekolah? Dia pasti malu banget masuk ke sekolah Harry. Secara seragamnya kan beda.
“Hai, Har.”sapa Zayn.
“Hai, Zayn. Akhirnya dateng juga.”kata Harry.
“Ohlo udah nunggu gue lama ya?”tanya Zayn.
“Ya sekitar 30 menit.”jawab Harry.
Zayn menggerutu dalam hati.
“Nggak ada apa-apanya dibanding gue nunggu dia hampir dua jam.”
Harry yang tahu Zayn memenangkan kompetisi member selamat kepada Zayn.
“Oh iya selamat ya. Lo emang hebat.”puji Harry.
“Iya. Thanks ya.”
Harry mengajak Zayn masuk ke sekolahnya. Awalnya dia menolak karena malu. Akan tetapi Harry memaksanya. Akhirnya dia masuk juga ke dalam sekolah Harry yang sama luasnya dengan sekolahnya.
Harry memperkenalkan Zayn kepada kedua teman bandnya.
“Ben, Marcel, ini Zayn.”
“Hai, Zayn. Gue Ben.”kata Ben.
“Hai, gue Marcel.”kata Marcel.
“Hai, gue Zayn. Seneng bisa ketemu kalian. Semoga kita bisa jadi partner yang baik ya.”
Ben dan Marcel mengangguk mengiyakan. Tanpa berlama-lama lagi, mereka langsung latihan. Ben dan Marcel sangat terpukau dengan suara Zayn. Sama seperti Harry, mereka menganggap suara Zayn itu unik.
========================================
Hari ini dia Zayn berencana akan menyatakan perasaannya kepada Perrie. Sebelumnya dia belum pernah menembak cewek. Dia meminta bantuan Harry dan Gemma untuk menembak Perrie. Pagi-pagi sekali dia menuju rumah Harry. Sesampainya disana, rumah Harry masih sepi. Gimana nggak sepi? Dia datang pukul 05.00. Jam segitu yang shalat subuh di masjid baru saja selesai. Hari ini hari minggu. Jelas banyak yang melanjutkan tidur setelah shalat.
Zayn bingung dia harus memijit bel rumah Harry atau tidak. Dia takut mengganggu keluarga Harry yang mungkin masih tidur. Dia ingat menyimpan nomor handphone Harry di kontak handphone nya. Dia langsung mengirim pesan singkat kepada Harry.
To : HARRY
Text :
Har, lo udah bangun belom?
Tidak berapa lama kemudian, Harry membalasnya.
From : HARRY
Text :
Udh. Emang knp, Zayn?
Zayn pun langsung membalas lagi.
To : HARRY
Text :
Gw ada di depan rumah lo. Bisa gak lo kesini?
Harry nggak membalas lagi. Dia keluar rumahnya dengan hanya mengenakan celana pendek. Harry itu sangat suka tidur bertelanjang dada. Lebih bebas katanya.
“Kenapa nggak masuk aja sih, Zayn?”tanya Harry sambil membuka gembok pagar rumahnya.
“Gue takut ganggu sama bokap nyokap lo.”jawab Zayn.
“Nggak apa-apa kali. Gue sekeluarga biasa bangun jam 3 pagi.”jelas Harry.
“Pagi bener. Mau ngapain emang? Nggak mungkin shalat tahajud kan?”tanya Zayn.
Satu satunya alasan Zayn bertanya begitu adalah Harry dan keluarganya beragama Kristen.
“Ya enggaklah. Nggak ngapa-ngapain sih. Udah kebiasaan bangun jam segitu, jadi ya digimanain lagi. Hehe.”jelas Harry lagi.
Ini pertama kalinya Zayn masuk ke rumah Gemma setelah 2 tahun berteman dengan Gemma.
“Duduk dulu Zayn. Gue mau mandi dulu.”kata Harry
“Oke. Jangan lama-lama lo.”kata Zayn bermaksud meledek.
“Emang gue Gemma yang mandinya berjam-jam?”kata Harry sembari tertawa.
Zayn ikut tertawa saat dia tahu ternyata Gemma mandi selama itu. Sambil menunggu Harry mandi, dia melihat sekeliling ruang tamu rumah Harry. Banyak sekali lukisan yang membuat dia tertarik. Ketika sedang asyik menikmati indahnya coret-coretan di dinding rumah Harry, Mama Harry datang mengagetkan Zayn.
“Zayn ya?”sapa Mama Harry.
“Eh tante. Iya saya Zayn. Saya lagi liat liat lukisan disini. Bagus bagus banget. Saya jadi kepengen nyoba buat bikin.”kata Zayn.
“Oh kamu suka melukis nak? Harry bilang kamu suka menyanyi?”tanya Mama Harry.
“Iya saya suka dua dua nya tante.”jawab Zayn sambil tersenyum.
Lagi asyik ngobrol sama Mama Harry, Harry datang mengenakan celana jeans hitam panjang dan kemeja biru. Wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut yang basah.
“Wah lagi pada asyik ngegosip nih kayaknya. Gosipin apa sih?”tanya Harry.
“Masa mama ngegosip sama zayn sih, Har?”kata Mama Harry.
“Zayn kan rumpi Ma”ledek Harry sambil cekikikan.
“Enak aja lo.”timpal Zayn sambil ikut cekikikan.
Mama Harry meninggalkan Harry dan Zayn. Sepeninggal Mama Harry, Zayn langsung membicarakan tentang dirinya yang akan menembak Perrie.
“Gue pengen nembak Perrie.”kata Zayn.
“Yaudah sekarang lo ke rumahnya.”kata Harry.
“Tapiiii…..”
“Tapi apa? Tapi lo ngga tahu harus ngomong apa?”tanya Harry.
“Iya hehe.”jawab Zayn
“Gue mau sih bantu lo cumin gue juga belom pernah nembak cewek.”
Zayn terkejut cowok seperti Harry tidak pernah menyatakan cinta kepada cewek.
“Masa? Nggak mungkin ah.”kata Zayn yang tidak percaya.
“Beneran. Masa aku bohong.”kata Harry meyakinkan Zayn.
Tiba-tiba Gemma datang menghampiri mereka.
“Duh pada serius amat. Lagi ngomongin gue ya?” kata Gemma.
“Lo pede amat sih.”kata Harry
Gemma dan Zayn tertawa mendengar ucapan Harry. Kelihatannya Harry nggak suka kakaknya itu ikut campur obrolannya dengan Zayn. Akan tetapi Harry berpikir lagi. Gemma itu sudah berpengalaman dalam berpacaran. Pasti dia bisa membantu Zayn.
“Zayn kepengen nembak Perrie. Dia minta bantuan gue tapi gue nggak bisa. Lo bisa nggak?”tanya Harry.
Gemma terbelalak mendengarnya. Wajahnya berubah loyo seketika.
“Gue bisa bantu apa?”tanya Gemma lirih.
“Gue bingung harus bilang gimana sama Perrie. Lo kan tau, Ma. Gue nggak pernah nembak cewek.”jawab Zayn.
“Iya gue bisa kok bantu lo.”
Perrie sedang asyik bermain main dengan adik sepupunya di rumah. Dia nggak punya adik makanya dia selalu sayang dengan siapapun yang umurnya dibawah dia.
Ketika Perrie sedang membuat kue untuk adik sepupunya itu, terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Ternyata yang datang itu Zayn. Dia datang sendiri karena saran dari Gemma kalau dia datang bersama Gemma dan Harry kemungkinan Perrie akan menganggap Zayn tidak gentleman.
Sampai di depan pintu rumah Perrie, Zayn menarik napasnya. Dalam hati dia tetap berdoa agar diterima oleh Perrie. Dengan sedikit keraguan Zayn mengetuk pintu rumah Perrie. Perrie yang memang sudah tahu aka nada tamu langsung membukakan pintu.
“Eh Zayn, tumben. Masuk dulu yuk”sapa Perrie
Zayn mengangguk mengiyakan dan masuk ke dalam rumah Perrie.
“Maaf ya berantakan aku belum sempet beres beres”kata Perrie
“Iya nggak apa apa kok”
Perrie mempersilahkan Zayn duduk. Perrie duduk di sebelah Zayn. Itu membuat Zayn semakin grogi untuk menembak Perrie.Wajah Zayn kini bercucuran keringat.
“Kamu kenapa? Kok keringetan gitu?”tanya Perrie bingung
“Aku….”kata Zayn gugup
“Apa? Kamu lagi ada masalah?”tanya Perrie yang semakin bingung.
“Aaakuu….saayaang…kamu”
Perrie nggak nyangka Zayn akan menyatakan perasaan padanya. Dia sangat nggak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Zayn. Zayn yang tahu Perrie bingung kembali lagi meyakinkan Perrie.
“Aku bener bener sayang sama kamu Perrie. Kamu mau nggak jadi pacar aku?”tanya Zayn. Kali ini Zayn sudah tidak segugup tadi.
“Akuu…”kata Perrie pelan
“Aku nggak maksa kok. Kalaupun nanti kamu nolak aku, aku nggak akan pernah benci sama kamu”jelas Zayn meyakinkan Perrie lagi.
Perrie mengangguk yang berarti dia mau menjadi pacar Zayn. Zayn langsung memeluk Perrie dengan penuh rasa sayang. Perrie membalasnya.
“Perrie, i promise I will love you till I die”bisik Zayn
“Thanks honey. I’m too”balas Perrie.
Mereka saling memandang dan Zayn mendekatkan wajahnya pada wajah Perrie. Diciumnya bibir Perrie dengan lembut.
========================================
Harry terlihat bahagia pagi ini. Dia mendapat kabar dari Marcel kalau band mereka diundang dalam acara peresmian mall milik om Marcel. Harry berencana akan mengejutkan Zayn dengan berita ini.
“Yeah Zayn. You are a lucker for my band”kata Harry dalam hati.
Berita Zayn dan Perrie pacaran ternyata sudah meluas. Entah darimana datangnya. Saat masuk ke kelas masing-masing keduanya ditodong anak-anak sekelas.
“Yang baru jadian, traktiran dong”seru salah satu teman sekelas Zayn
“Lo makan aja sepuasnya di kantin, nanti gue bayarin”kata Zayn
“Yang bener loooo?”
“Iya gue yang bayarin tapi pake duit lo.”kata Zayn sambil tertawa.
Seluruh murid di kelas Zayn menyorakinya. Zayn keluar kelas sambil tetap tertawa. Dilihat nya Perrie dari atas keluar dari kelasnya juga. Zayn menuruni tangga dan menghampiri pacar barunya itu.
“Haiiiii”sapa Zayn
“Eh Zayn bikin kaget aja.”kata Perrie
“Hehe sori sayang. Kelas kamu rebut banget. Ada apa sih?”tanya Zayn sambil menengok kelas Perrie
“Temen temen sekelas aku pada minta pajak jadian aku sama kamu”jawab Perrie
“Loh ko sama? Temen temen sekelas aku juga loh”
“Kok berita nya udah langsung kesebar ya?”
“Mana aku tahu. Tapi nggak masalah kan kalo satu sekolahan tahu?”
“Ya nggakpapa sih”
Gemma datang dan memberikan selamat kepada dua temannya yang baru saja jadian itu. Sama seperti yang lainnya Gemma meminta traktiran kepada mereka.
“CONGRATS YA MY FRIENDS”teriak Gemma lalu memeluk Zayn dan Perrie.
Perrie melepas pelukan Gemma diikuti Zayn.
“Makasih ya, Ma. Ini berkat lo juga ka hehe”kata Zayn
“Berkat Gemma?”tanya Perrie bingung
“Iya Zayn itu dateng kerumah gue kemarin pagi. Dia bingung harus ngomong gimana sama lo”jelas Gemma sedikit tertawa
“Ya ampun Zayn”kata Perrie sambil tertawa diikuti Zayn dan Gemma.
“Pizza boleh dong?”goda Gemma
“Boleh kok tapi bayar sendiri”kata Zayn
“Huuuuu”sorak Gemma.
Harry, Ben, dan Marcel sudah ada di depan sekolah Zayn. Siswi Tong High School melihat mereka sambil senyam-senyum seperti melihat artis idola. Ben dan Marcel membalas senyum mereka sedangkan Harry acuh dan tetap melihat ke dalam sekolah. Akhirnya orang yang mereka tunggu datang juga.
“Eh guys kalian kok ada disini?”tanya Zayn
“Iya kita mau kasih kejutan buat lo”jawab Ben
“Kejutan? Gue nggak lagi ulang tahun perasaan?
“Iya kejutan. Nggak usah banyak nanya. Langsung masuk aja yuk ke mobil”kata Harry yang kayaknya udah males liat cewek-cewek disitu yang mulai tebar pesona.
Di mobil Harry memberi tahu Zayn tentang undangan om Marcel.
“Lusa band kita diundang buat tampil di acara pembukaan mall milik om nya Marcel”
“Waw serius? Alhamdulillah banget kalo gitu.”kata Zayn
“Iya. Sekarang kita mau latihan. Lo bisa kan?”tanya Harry. Dia tahu Zayn sudah berhubungan dengan Perrie maka nya dia nanya kayak gitu barangkali Zayn akan pergi dengan Perrie.
“Bisa kok bisa”jawab Zayn bersemangat
Ben langsung menyarter mobilnya dan berangkat menuju tempat dimana mereka biasa latihan.
========================================
“Kok pulangnya malem banget sih Zayn?”tanya Mama Zayn.
“Iya Ma tadi aku abis latihan band”jawab Zayn sambil melepas sepatunya
“Kamu punya band? Kok ngga cerita cerita sih sama Mama?”
“Maaf ya Ma”
“Nggak apa apa kok sayang. Mandi dulu gih terus makan bareng.”
“Siap Ma”
Zayn bergegas mandi dan solat isya terlebih dahulu sebelum makan malam. Zayn menceritakan tentang dirinya yang akan tampil bersama bandnya kepada keluarganya.
“Aku sama bandku bakal tampil di pembukaan mall di Doncaster”kata Zayn
“Oh ya? Kapan?”tanya Papa
“Lusa. Aku harap kalian semua dateng”pinta Zayn
Waliyha,Doniya,dan Safaa mengangguk mengiyakan. Mama dan Papa Zayn saling memandang. Papa mengangkat alisnya.
“Zayn tahu kok pasti Mama sama Papa nggak bisa dateng”kata Zayn sedikit kecewa
“Maafin kami ya sayang”kata Mama
“Iya ma nggak apa apa kok, zayn ngerti”
Zayn, Harry,Ben, dan Marcel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar