1 Jam Kenangan
Terik matahari pagi menyinari wajah mulus Zayn
yang sedang berjalan menuju sekolahnya. Jarak sekolahnya tidak jauh dari
rumahnya. Zayn adalah siswa kelas 2 di Tong High School. Nama lengkapnya Zayn
Javadd Malik. Dia sangat hobi menggambar. Hobi itu dia dapat dari ayahnya.
Tubuhnya tinggi, tidak kurus dan tidak gemuk. Model rambutnya sangat khas.
Jambul lancip.
Sampai di sekolah, Zayn
langsung menuju kelasnya yang berada di pojok kanan lantai 2. Ketika ingin
melangkahkan kaki ke tangga, ada suara cewek yang memanggil namanya.
“Zaaaaaayn, tunggu
sebentar!”seru cewek itu.
Zayn yang terpanggil
meghentikan langkahnya.
“Hai,Perrie. Ada
apa?”tanya Zayn sambil tersenyum
Perrie itu teman satu
ekskul Zayn. Zayn menyukai Perrie sejak awal bertemu. Zayn bilang Perrie itu
unik. Dia beda dari cewek-cewek lainnya.
“Aku cuma mau bilang
kalo hari ini kita kumpul ekskul”kata Perrie.
“Oh oke. Dimana?”
“Kayak biasa di
perpustakaan”
“Siap bos hehe”
“Ah kamu bisa aja.
Hehe”
Setelah memberi tahu
Zayn, Perrie meninggalkan Zayn dan langsung menuju kelasnya. Sepeninggal
Perrie, Zayn masih tersenyum di tangga. Suara bel yang berada tepat di atas
Zayn mengagetkannya. Untung ada suara bel. Coba kalau nggak ada? Zayn
bakalan tetep disitu sambil
senyam-senyum kayak orang gila.
========================================
Hari ini di kelas ada
ujian matematika. Harry lupa untuk belajar. Harry Styles adalah anak yang
termasuk rajin di kelas. Baru kali ini dia tidak belajar untuk ujian
matematika.
“Aduh gimana nih, gue
belum belajar. Mampus deh gue.”batin Harry.
Pak John langsung
membagikan kertas ulangan ke setiap bangku. Wajah Harry terlihat sangat
ketakutan. Dia memikirkan bagaimana nanti nilai yang akan dia dapat. Harry
menggaruk-garukan kepalanya. Itu membuat Pak John bertanya-tanya.
“Harry, kamu
kenapa?”tanya Pak John.
“Eh, mmm nggak apa-apa
kok, Pak.”jawab Harry.
Pak John hanya
geleng-geleng kepala dan duduk di tempatnya. Harry langsung membuka soal
matematika yang baru saja dibagikan. Dia menelan ludah.
“Ya Tuhan ini kan
persis banget sama yang minggu kemarin dibahas. Ah coba kalo gue belajar. Pasti
gue bisa”gerutunya dalam hati.
Harry hanya bisa pasrah
dengan hasil ujiannya kali ini. Dia yakin sekali akan dapat nilai dibawah
rata-rata. Dari 10 soal dia hanya menjawab 3. Itupun belum tentu benar. Harry
yang frustasi langsung menuju kantin ketika bel istirahat berbunyi.
========================================
Hari ini sekolah Zayn
pulang cepat. Guru-guru akan menghadiri pernikahan anak dari kepala sekolah.
Ketika bel pulang berbunyi, Zayn langsung menuju perpustakaan.
Di perpustakaan sudah
ada Perrie dan beberapa anggota ekskul lainnya. Zayn yang tahu langsung
tersenyum bahagia dan menghampiri Perrie.
“Hai udah ada di perpus
aja nih”kata Zayn
“Iya. Tadi kebetulan
dari pagi nggak ada guru yang masuk. Jadi aku kesini aja deh”jelas Perrie
“Oh gitu”
Tidak lama kemudian,
satu per satu anggota lain berdatangan. Perpustakaan jadi penuh dengan
anak-anak ekskul bahasa inggris.
“Udah kumpul semua kan?
Kalo gitu kita mulai aja ya”kata Perrie.
Semua anggota termasuk
Zayn mengiyakan ucapan Perrie. Perrie adalah ketua ekskul ini. Sedangkan Zayn
hanya menjadi anggota. Dia tidak senang mendapat jabatan. Itu akan menambah
pusing saja katanya.
“Maksud aku
mengumpulkan kalian kesini soalnya aku dapet info dari Miss Sera kalo minggu
depan akan ada english competition”jelas Perrie.
“Apa yang bakal di
kompetisikan kak?”tanya salah satu anggota yang merupakan adik kelas Perrie.
“Banyak. Ada pidato,
menyanyi, puisi, bercerita, dan menulis. Aku ingin semua anggota disini ikut
kompetisi itu.”
“Kalo gitu aku pengen
ikut komepetisi menyanyi”kata Zayn.
“Boleh aja. Kalian
tinggal tulis nama kalian dan kompetisi apa yang akan diikuti di kertas
selembar. Lalu kasihkan ke Gemma.”jelas Perrie lagi.
========================================
Sepulang sekolah, Harry
pergi ke kafe langganannya. Dia masih memikirkan ujian matematika tadi siang.
Harry menghela nafas. Harry memesan luwak ice coffee kesukaannya. Hanya
menunggu 5 menit pesanannya sudah diantarkan. Selain pesanannya dia mendapat
brosur penuh warna dari pelayan itu. Dia mengambil lalu membacanya. Isi brosur
itu adalah English Competition. Harry yang hobi bernyanyi langsung bertekad
bulat untuk ikut kompetisi kategori menyanyi.
Harry meminum habis
luwak ice coffee nya. Dia langsung bergegas ke tempat pendaftaran kompetisi
itu.
========================================
Zayn menghabiskan hari
minggunya dengan latihan vokal di rumah. Dia satu-satu nya yang memilih
kompetisi menyanyi di ekskul bahasa inggris. Maka dari itu dia berlatih
sendiri. Beda dengan Perrie yang mengikuti kompetisi menulis. Menulis menjadi
favorit di ekskul.
“Zayn, makan dulu.
Nanti kamu sakit loh” kata Mama.
“Iya ma, tanggung nih.”
“Cepetan mama tunggu di
meja makan ya”
Zayn memang cukup dimanjakan
oleh Mamanya. Dia satu-satunya anak cowok dirumah. Kakak dan adik-adiknya semuanya
cewek.
Selesai latihan,Zayn
menuju meja makan. Disana sudah pada berkumpul.
“Bang, lama banget sih.
Safaa udah laper tahu.”kata Safaa adiknya yang paling kecil.
“Iya maaf deh. Aku kan
lagi latihan buat kompetisi minggu depan”jelas Zayn
“Emang kamu mau ikut
kompetisi apa?”tanya Papa
“Kompetisi nyanyi,
Pa”jawab Zayn.
“Emang suara lo
bagus?”ledek Waliyha adik pertamanya.
“Heeeh jangan salah.
Abangmu ini nggak kalah jauh sama Justin Bieber.”
Semua yang mendengar
langsung tertawa. Zayn memang sedikit suka dengan Justin Bieber.
========================================
Hari ini hari adalah
hari yang ditunggu-tunggu oleh Zayn. Iya. Hari ini adalah hari dimana kompetisi
berlangsung. Zayn sangat semangat. Dia yakin akan memenangkan kompetisi ini.
Kompetisi menyanyi
dijadwalkan di akhir acara. Itu dibuat sekalian untuk hiburan. Zayn mendapat
urutan tampil ke 5 dari 20 peserta.
“Gue yakin banget bakal
menang. Lo liat aja peserta yang lain. Nggak mutu semua”kata seorang cowok yang
duduk di sebelah Zayn kepada temannya.
“Bener banget tuh,
Har”kata temannya itu.
Cowok itu ternyata Harry.
Dia datang bersama Jack teman sebangkunya. Zayn yang mendengar langsung tertawa.
“Kenapa lo ketawa? Ada
yang lucu?”tanya Harry.
“Ada”jawab Zayn
singkat.
“Apa? Apa yang lucu
hah?”
“Lo yang lucu. Lo pede
banget ya bakal menang. Pake ngatain gue sama yang lain lagi.”terang Zayn
sembari cekikikan.
“Heh gue ngomong sesuai
fakta ya.”
“Sesuai fakta gimana?
Belum juga pengumuman. Jangan belagu deh lo.”
“Elo yang
belagu!”bentak Harry.
Harry akan memukul Zayn
tetapi terhenti karena giliran Zayn yang akan tampil.
“Awas lo ya. Urusan
kita belom kelar!”ancam Harry.
“Gue nggak takut.”kata
Zayn dengan senyum sinis.
Zayn naik ke atas
panggung dengan sedikit emosi karena hal tadi. Dia menghela napas agar fokus
pada kompetisi. Dia tidak ingin usahanya latihan setiap hari sia-sia karena Harry.
Dia menyanyikan lagu. Perrie dan penonton lainnya bersorak sorai melihat
penampilan Zayn.
“Apa bagusnya dia?
Kampung!”cela Harry yang terlihat iri dengan Zayn yang mendapat tepuk tangan
meriah dari para juri.
Zayn turun dari
panggung. Kini giliran Harry yang tampil.
“Kalo lo bisa dapet
tepuk tangan yang lebih meriah dari gue. Gue bakal turutin semua yang lo minta.
Begitu juga sebaliknya”bisik Zayn pada Harry yang sedang berjalan menuju
panggung.
Harry mengangguk
mengiyakan omongan Zayn. Dia menatap Zayn yang mulai menjauhinya. Dia berambisi
untuk menampilkan yang terbaik. Dia sudah punya rencana untuk membuat Zayn
menderita.
Harry menyanyikan lagu.
Suara Harry ternyata tidak kalah bagus dengan Zayn. Semua penonton terkesima
dengan suara emasnya. Akan tetapi, Harry tidak puas dengan penampilannya. Dia
gagal mendapatkan tepuk tangan yang lebih meriah dari Zayn. Dia turun dari
panggung dengan kekecewaan.
“Kenapa lo? Kok sedih
gitu? Penonton pada suka sama penampilan lo, Har.”tanya Jack.
Baru saja Harry ingin
menjawab pertanyaan Jack. Zayn datang menghampiri mereka.
“Inget janji kita
ya”kata Zayn dengan menepuk-nepuk bahu Harry.
“Lo janji apa sama
dia?”tanya Jack lagi.
“Bukan urusan lo.”jawab
Harry dan langsung meninggalkan Jack.
Di luar tempat
kompetisi, Harry menemui Zayn yang sedang duduk di halte bersama Perrie.
“Hai. Duduk dulu.”pinta
Zayn.
“Nggak usah basa-basi
deh lo. Lo mau apa dari gue?”tanya Harry emosi.
Perrie heran dengan
Harry yang tiba-tiba datang langsung emosi.
“Jangan emosi gitu
dong. Duduk dulu. Kenalan dulu. Gue Zayn.”kata Zayn.
“Harry.”jawab Harry
singkat.
“Oh Harry. Oh iya ini
Perrie, temen gue.”
Perrie tersenyum manis
kepada Harry. Akan tetapi Harry acuh padanya.
“Buruan deh lo mau apa.
Gue sibuk.”kata Harry.
“Gue nggak minta yang
aneh-aneh kok. Gue cuma mau minta lo minta maaf sama gue dan peserta lainnya.”
Harry terkejut Zayn
meminta itu padanya. Dia sudah mengira Zayn akan meminta yang macam-macam
padanya.
“Hah minta maaf? Gue
salah apa emang?”tanya Harry.
Zayn menghela nafas.
“Lo udah ngatain gue
dan peserta lainnya nggak bermutu.”
“Oh itu haha. Emang
bener kan?”
Zayn melototi Harry.
“Oh oke. Sori ya Zayn
soal tadi.”kata Harry.
“Lo juga minta maaf
sama mereka.”pinta Zayn sambil menunjuk gerombolan peserta kompetisi menyanyi
di sebelah Perrie.
“Woy semua gue minta
maaf.”kata Harry dengan nada sedikit terpaksa.
Itu tidak menjadi
masalah buat Zayn. Zayn dan peserta lainnya memaafkan Harry.
Hari sudah mulai malam.
Zayn, Perrie, Harry, dan yang lainnya bergegas pulang. Pengumuman pemenang
kompetisi akan diterbitkan di majalah Teen Time edisi lusa.
========================================
Di rumah, Harry masih
kesal dengan Zayn. Mukanya ditekuk sedari pulang tadi.
“Kenapa lo? Kok bête
gitu sih kayaknya?”tanya Gemma. Gemma adalah kakak Harry.
Harry tidak menjawab.
“Heh keriting. Jawab
kaliiiii.”kata Gemma.
Harry tetap tidak
bersuara.
“Adikku tersayang, kalo
ada apa-apa cerita dong sama kakakmu yang cantik ini.”pinta Gemma.
Akhirnya Harry bersuara
juga.
“Apaan sih lo. Jangan
bikin gue tambah enek ya.”
“Lo kenapa sih?”tanya
Gemma lagi.
“Gue kesel sama orang
yang tadi di kompetisi.”kata Harry yang sepertinya akan mulai terbuka dengan
Gemma. Harry itu sangat tertutup. Dia tidak pernah menceritakan masalahnya
kepada orang lain termasuk keluarganya.
“Siapa? Temen lo?”
“Temen? Jangan sampe
gue temenan sama dia.”
“Siapa sih emang?”
“Dia itu peserta
kompetisi nyanyi juga kayak gue. Dia bikin kesel gue selama acara berlangsung. Namanya
Zayn.”
Gemma terkejut ketika
mendengar nama Zayn.
“Zayn? Zayn
Malik?”tanya Gemma penasaran.
“Mana gue tahu nama
lengkapnya. Yang pasti sih dia sedikit pendek dari gue, berjambul, dan dia juga
punya temen namanya Perrie.”jelas Harry.
Benar saja dugaan
Gemma. Zayn yang dimaksud adalah teman satu ekskulnya.
“Itu temen gue.”kata
Gemma
“Hah? Zayn temen
lo?”tanya Harry terkejut.
“Iya. Nggak nyangka ya
lo? Haha. Dia sama Perrie itu temen satu ekskul gue. Seharusnya gue juga ikut
kompetisi itu tapi lo kan tahu, gue mesti nemenin Mama ke rumah kakek.”jelas
Gemma.
Harry mengangguk.
“Udah deh Har, lo
jangan terus-terusan kesel sama dia apalagi sampe benci. Zayn itu temen baik
gue. Dia itu care banget loh orangnya.”
Harry mulai meredam
emosinya dan sepertinya mulai tertarik untuk berteman dengan Zayn. Apalagi Zayn
memiliki suara yang sangat unik.
========================================
Gemma sudah siap untuk
berangkat sekolah. Selesai sarapan dia langsung menuju mobil sedan biru
miliknya. Selagi membuka pintu mobilnya, Harry memanggilnya.
“Gemma. Tunggu!”seru
Harry.
Gemma menoleh kea rah
adiknya itu.
“Ada apa? Lo mau bareng
gue?”tanya Gemma.
“Nggak. Gue cuma mau
minta tolong sama lo.”kata Harry.
“Minta tolong apa?”
“Tolong bilang ke Zayn.
Pulang sekolah temuin gue di kafe Mozza.”pinta Harry yang membuat Gemma
terheran-heran.
“Lo mau ngapain? Lo
jangan macem-macem deh sama dia.”kata Gemma khawatir.
“Bego lo. Gamungkin kan
gue berantem sama dia di kafe. Ada yang mau gue omongin sama dia.”
“Oh gitu. Awas ya lo.
Siap deh keriting ntar gue sampein kok.”
Gemma langsung memasuki
mobilnya dan berangkat menuju sekolah. Disusul Harry dengan mobil jeep hitamnya
keluar dari rumah.
Di jalan, Harry
berharap Zayn mau menerima ajakannya. Walaupun dia pikir Zayn pasti bingung
kenapa tiba-tiba dia mengajak ketemuan di kafe.
========================================
Sesampainya di sekolah,
Gemma memakirkan mobilnya di sebelah mobil Perrie. Ketika keluar dari mobil,
dia melihat Zayn berjalan menuju kelasnya.
“Zayn”sapa Gemma.
Zayn yang tahu menoleh.
Gemma yang melihat Zayn menoleh langsung berlari menghampiri Zayn.
“Ada apa, Ma?”tanya
Zayn.
“Gue mau nyampein pesen
adek gue.”kata Gemma.
“Adek lo? Siapa? Pesen
apa emang?”tanya Zayn penasaran.
“Iya. Harry yang
kemaren rebut sama lo di tempat kompetisi. Dia mau ketemu sama lo di kafe
pulang sekolah.”jelas Gemma.
Zayn terkejut dengan
omongan Gemma. Dia sama sekali nggak nyangka kalau Harry itu adik Gemma.
“Harry adek lo? Mau apa
dia ketemu gue?”tanya Zayn lagi.
“Gue nggak tahu.
Katanya sih ada yang mau diomongin.”jawab Gemma.
“Oh gitu. Oke gue bakal
temuin dia. Kafe mana?”
“Kafe Mozza”
Hari ini hasil ujian
matematika akan dibagikan. Setelah mendengar hal itu dari Pak John jantung
Harry langsung berdebar-debar. Mukanya sangat gelisah. Jack heran dengan Harry
yang baru kali ini dilihatnya tegang menunggu hasil ujian. Biasanya Harry
selalu tenang dan yakin akan mendapat nilai besar.
Pak John mulai
memanggil muridnya satu per satu. Nama Jack Peter dipanggil pertama. Jack
mendapat nilai 98. Jack sangat bahagia soalnya dia itu lemah di matematika.
Akan tetapi kali ini dia berhasil mendapatkan nilai di atas 50.
“Bagus, Jack. Kamu ada
kemajuan. Nilai kamu juga paling besar untuk ulangan kali ini.”puji Pak John.
Harry nggak nyangka
kalau Jack akan mengalahkannya kali ini. Setelah 10 orang dipanggil, nama Harry
dipanggil oleh Pak John. Terlihat sekali wajahnya dipenuhi rasa kecewa.
“Maaf ya, Pak.”kata
Harry pelan.
“Kamu sudah mengerti
rupanya. Nggak apa-apa kok, Har. Yang penting jangan kamu ulangi lagi.”kata Pak
John dengan nada pelan juga. Ternyata Pak John tidak ingin teman-teman Harry
tahu kalau dia mendapat nilai 25.
Harry mengangguk dan
berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Harry kembali ke tempat duduknya dengan
perasaan lega. Dia nggak nyangka Pak John akan berbaik hati padanya.
Pelajaran dilanjutkan
dengan bab yang baru lagi.
========================================
Sepulang sekolah, Zayn
langsung menuju kafe Mozza. Dia belum melihat tanda-tanda Harry disana. Zayn
memesan milk ice coffee terlebih dahulu sambil menunggu Harry.
Sudah hampir 2 jam Zayn
menunggu Harry di sana. Akan tetapi Harry belum kelihatan juga batang
hidungnya. Zayn mulai bepikir kalau Harry Cuma mengerjainya. Zayn sudah mulai
bosan disana. Dia langsung menghabiskan minumannya dan bergegas pulang.
Baru saja Zayn berdiri,
Harry menghampirinya dan menyuruhnya duduk lagi.
“Hai, Zayn. Sori gue
telat, gue abis remedial matematika. Sori banget ya.”kata Harry.
Zayn menghela napas dan
kembali duduk.
“Oke nggak masalah.
Langsung aja deh. Lo mau ngomongin apa sama gue?”tanya Zayn yang sedari pagi
sudah penasaran.
“Bentar dulu dong.
Kasih gue napas dulu. Gue capek nih.”kata Harry
“Iya oke. Sori ya gue
udah penasaran banget soalnya.”
“Haha. Sabar dong,Zayn.
Gue mau pesen minum dulu.”
Harry memesan luwak ice
coffee kesukaannya. Baru saja pesanan itu diantar, luwak ice coffee porsi besar
itu langsung habis diteguk Harry. Cuaca pada saat itu memang sedang
panas-panasnya. Wajar saja kalau Harry kehausan. Apalagi setelah bergumit
dengan soal-soal remedial, dia langsung menuju ke kafe tanpa mampir sebentar ke
kantin sekolahnya.
“Langsung aja nih ya
karena lo udah penasaran banget. Gue mau ngajak lo gabung ke band gue.”jelas
Harry.
“Band?”tanya Zayn.
“Iya. Band gue udah
lama vakum karena vokalisnya ngundurin diri. Jadi gue pengen hidupin band gue
lagi dengan lo sebagai vokalisnya. Lo mau kan?”tanya Harry
“Kenapa harus
gue?”tanya Zayn lagi.
“Soalnya suara lo tuh
unik. Gue rasa lo pantes buat hidupin musik band gue lagi.”jelas Harry.
“Lo kan punya suara
yang bagus juga. Kenapa nggak lo aja?”tanya Zayn lagi yang kali ini bikin Harry
emosi.
“Lo banyak nanya ya.
Udah deh intinya lo mau apa enggak gabung ke band gue?”
Zayn tertawa.
“Sori sori gue masih
nggak nyangka aja tiba-tiba lo ngajak gue buat gabung ke band lo. Gue terima
ajakan lo.”
“Serius?”tanya Harry
senang.
“Iya. Besok udah bisa
latihan?”tanya Zayn
“Iya bisa kok. Besok lo
dateng aja ke sekolah gue. Gue biasa latihan disitu.”
“Sekolah lo dimana?”
“Holmes Chapel
Comprehensive School.”
Zayn mengangguk.
“Oke.”
========================================
Zayn masih nggak
nyangka juga kalau Harry akan mengajaknya bergabung di band milik Harry. Dia
tersenyum sendiri mengingat wajah Harry yang sangat senang ketika dirinya
menerima ajakan itu.
Besoknya di sekolah,
anak-anak menyambut Zayn datang dengan meriah.
“Ada apa ini? Heboh
banget.”kata Zayn dalam hati.
Saat akan masuk
kelasnya, Perrie memanggilnya dan mengucapkan selamat padanya.
“Selamat ya, Zayn. Kamu
menang di kompetisi menyanyi kemaren lusa.”
“Oh ya? Alhamdulillah.
Kamu tahu darimana?”tanya Zayn yang sangat senang mendapat kabar bahagia dari
Perrie.
“Majalah Teen Time.
Hadiahnya ada di Miss Sera.”
Zayn meraih juara
pertama. Dia mendapatkan 5 juta rupiah dan paket perlengkapan sekolah. Perrie
juga berhasil dalam kompetisi itu. Akan tetapi dia hanya meraih juara ketiga.
“Aku cuma dapet juara
ketiga.”kata Perrie.
“Itu hebat,
Perrie.”puji Zayn.
“Iya tapi aku sangat
berharap bisa mendapat juara pertama kayak kamu.”
Wajah Perrie terlihat
sangat sedih. Zayn berusaha menghiburnya.
“Kamu harus tetap
bersyukur. Menurutku kamu sangat hebat dalam menulis.”
“Kamu bener, Zayn.
Makasih ya.”
Zayn mengangguk dan
sangat senang melihat orang yang dicintainya itu tersenyum lagi.
Sepulang sekolah, Zayn
langsung menuju ke sekolah Harry. Beruntung dia melihat Harry di depan sekolah.
Coba kalau Harry nggak ada di depan sekolah? Dia pasti malu banget masuk ke
sekolah Harry. Secara seragamnya kan beda.
“Hai, Har.”sapa Zayn.
“Hai, Zayn. Akhirnya
dateng juga.”kata Harry.
“Ohlo udah nunggu gue
lama ya?”tanya Zayn.
“Ya sekitar 30
menit.”jawab Harry.
Zayn menggerutu dalam
hati.
“Nggak ada apa-apanya
dibanding gue nunggu dia hampir dua jam.”
Harry yang tahu Zayn
memenangkan kompetisi member selamat kepada Zayn.
“Oh iya selamat ya. Lo
emang hebat.”puji Harry.
“Iya. Thanks ya.”
Harry mengajak Zayn
masuk ke sekolahnya. Awalnya dia menolak karena malu. Akan tetapi Harry
memaksanya. Akhirnya dia masuk juga ke dalam sekolah Harry yang sama luasnya
dengan sekolahnya.
Harry memperkenalkan
Zayn kepada kedua teman bandnya.
“Ben, Marcel, ini
Zayn.”
“Hai, Zayn. Gue
Ben.”kata Ben.
“Hai, gue Marcel.”kata
Marcel.
“Hai, gue Zayn. Seneng
bisa ketemu kalian. Semoga kita bisa jadi partner yang baik ya.”
Ben dan Marcel
mengangguk mengiyakan. Tanpa berlama-lama lagi, mereka langsung latihan. Ben
dan Marcel sangat terpukau dengan suara Zayn. Sama seperti Harry, mereka menganggap
suara Zayn itu unik.
========================================
Hari ini dia Zayn
berencana akan menyatakan perasaannya kepada Perrie. Sebelumnya dia belum
pernah menembak cewek. Dia meminta bantuan Harry dan Gemma untuk menembak
Perrie. Pagi-pagi sekali dia menuju rumah Harry. Sesampainya disana, rumah
Harry masih sepi. Gimana nggak sepi? Dia datang pukul 05.00. Jam segitu yang
shalat subuh di masjid baru saja selesai. Hari ini hari minggu. Jelas banyak
yang melanjutkan tidur setelah shalat.
Zayn bingung dia harus
memijit bel rumah Harry atau tidak. Dia takut mengganggu keluarga Harry yang
mungkin masih tidur. Dia ingat menyimpan nomor handphone Harry di kontak
handphone nya. Dia langsung mengirim pesan singkat kepada Harry.
To : HARRY
Text :
Har, lo udah bangun
belom?
Tidak berapa lama
kemudian, Harry membalasnya.
From : HARRY
Text :
Udh. Emang knp, Zayn?
Zayn pun langsung
membalas lagi.
To : HARRY
Text :
Gw ada di depan rumah
lo. Bisa gak lo kesini?
Harry nggak membalas
lagi. Dia keluar rumahnya dengan hanya mengenakan celana pendek. Harry itu
sangat suka tidur bertelanjang dada. Lebih bebas katanya.
“Kenapa nggak masuk aja
sih, Zayn?”tanya Harry sambil membuka gembok pagar rumahnya.
“Gue takut ganggu sama
bokap nyokap lo.”jawab Zayn.
“Nggak apa-apa kali.
Gue sekeluarga biasa bangun jam 3 pagi.”jelas Harry.
“Pagi bener. Mau
ngapain emang? Nggak mungkin shalat tahajud kan?”tanya Zayn.
Satu satunya alasan
Zayn bertanya begitu adalah Harry dan keluarganya beragama Kristen.
“Ya enggaklah. Nggak
ngapa-ngapain sih. Udah kebiasaan bangun jam segitu, jadi ya digimanain lagi.
Hehe.”jelas Harry lagi.
Ini pertama kalinya
Zayn masuk ke rumah Gemma setelah 2 tahun berteman dengan Gemma.
“Duduk dulu Zayn. Gue
mau mandi dulu.”kata Harry
“Oke. Jangan lama-lama
lo.”kata Zayn bermaksud meledek.
“Emang gue Gemma yang
mandinya berjam-jam?”kata Harry sembari tertawa.
Zayn ikut tertawa saat
dia tahu ternyata Gemma mandi selama itu. Sambil menunggu Harry mandi, dia
melihat sekeliling ruang tamu rumah Harry. Banyak sekali lukisan yang membuat
dia tertarik. Ketika sedang asyik menikmati indahnya coret-coretan di dinding
rumah Harry, Mama Harry datang mengagetkan Zayn.
“Zayn ya?”sapa Mama
Harry.
“Eh tante. Iya saya
Zayn. Saya lagi liat liat lukisan disini. Bagus bagus banget. Saya jadi
kepengen nyoba buat bikin.”kata Zayn.
“Oh kamu suka melukis
nak? Harry bilang kamu suka menyanyi?”tanya Mama Harry.
“Iya saya suka dua dua
nya tante.”jawab Zayn sambil tersenyum.
Lagi asyik ngobrol sama
Mama Harry, Harry datang mengenakan celana jeans hitam panjang dan kemeja biru.
Wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut yang basah.
“Wah lagi pada asyik
ngegosip nih kayaknya. Gosipin apa sih?”tanya Harry.
“Masa mama ngegosip
sama zayn sih, Har?”kata Mama Harry.
“Zayn kan rumpi
Ma”ledek Harry sambil cekikikan.
“Enak aja lo.”timpal
Zayn sambil ikut cekikikan.
Mama Harry meninggalkan
Harry dan Zayn. Sepeninggal Mama Harry, Zayn langsung membicarakan tentang
dirinya yang akan menembak Perrie.
“Gue pengen nembak
Perrie.”kata Zayn.
“Yaudah sekarang lo ke
rumahnya.”kata Harry.
“Tapiiii…..”
“Tapi apa? Tapi lo ngga
tahu harus ngomong apa?”tanya Harry.
“Iya hehe.”jawab Zayn
“Gue mau sih bantu lo
cumin gue juga belom pernah nembak cewek.”
Zayn terkejut cowok
seperti Harry tidak pernah menyatakan cinta kepada cewek.
“Masa? Nggak mungkin
ah.”kata Zayn yang tidak percaya.
“Beneran. Masa aku
bohong.”kata Harry meyakinkan Zayn.
Tiba-tiba Gemma datang
menghampiri mereka.
“Duh pada serius amat.
Lagi ngomongin gue ya?” kata Gemma.
“Lo pede amat sih.”kata
Harry
Gemma dan Zayn tertawa
mendengar ucapan Harry. Kelihatannya Harry nggak suka kakaknya itu ikut campur
obrolannya dengan Zayn. Akan tetapi Harry berpikir lagi. Gemma itu sudah
berpengalaman dalam berpacaran. Pasti dia bisa membantu Zayn.
“Zayn kepengen nembak Perrie.
Dia minta bantuan gue tapi gue nggak bisa. Lo bisa nggak?”tanya Harry.
Gemma terbelalak
mendengarnya. Wajahnya berubah loyo seketika.
“Gue bisa bantu
apa?”tanya Gemma lirih.
“Gue bingung harus
bilang gimana sama Perrie. Lo kan tau, Ma. Gue nggak pernah nembak cewek.”jawab
Zayn.
“Iya gue bisa kok bantu
lo.”
Perrie sedang asyik
bermain main dengan adik sepupunya di rumah. Dia nggak punya adik makanya dia
selalu sayang dengan siapapun yang umurnya dibawah dia.
Ketika Perrie sedang
membuat kue untuk adik sepupunya itu, terdengar suara mobil berhenti di depan
rumahnya. Ternyata yang datang itu Zayn. Dia datang sendiri karena saran dari
Gemma kalau dia datang bersama Gemma dan Harry kemungkinan Perrie akan
menganggap Zayn tidak gentleman.
Sampai di depan pintu
rumah Perrie, Zayn menarik napasnya. Dalam hati dia tetap berdoa agar diterima
oleh Perrie. Dengan sedikit keraguan Zayn mengetuk pintu rumah Perrie. Perrie
yang memang sudah tahu aka nada tamu langsung membukakan pintu.
“Eh Zayn, tumben. Masuk
dulu yuk”sapa Perrie
Zayn mengangguk
mengiyakan dan masuk ke dalam rumah Perrie.
“Maaf ya berantakan aku
belum sempet beres beres”kata Perrie
“Iya nggak apa apa kok”
Perrie mempersilahkan
Zayn duduk. Perrie duduk di sebelah Zayn. Itu membuat Zayn semakin grogi untuk
menembak Perrie.Wajah Zayn kini bercucuran keringat.
“Kamu kenapa? Kok
keringetan gitu?”tanya Perrie bingung
“Aku….”kata Zayn gugup
“Apa? Kamu lagi ada
masalah?”tanya Perrie yang semakin bingung.
“Aaakuu….saayaang…kamu”
Perrie nggak nyangka
Zayn akan menyatakan perasaan padanya. Dia sangat nggak percaya dengan apa yang
dia dengar dari mulut Zayn. Zayn yang tahu Perrie bingung kembali lagi
meyakinkan Perrie.
“Aku bener bener sayang
sama kamu Perrie. Kamu mau nggak jadi pacar aku?”tanya Zayn. Kali ini Zayn
sudah tidak segugup tadi.
“Akuu…”kata Perrie
pelan
“Aku nggak maksa kok.
Kalaupun nanti kamu nolak aku, aku nggak akan pernah benci sama kamu”jelas Zayn
meyakinkan Perrie lagi.
Perrie mengangguk yang
berarti dia mau menjadi pacar Zayn. Zayn langsung memeluk Perrie dengan penuh
rasa sayang. Perrie membalasnya.
“Perrie, i promise I
will love you till I die”bisik Zayn
“Thanks honey. I’m
too”balas Perrie.
Mereka saling memandang
dan Zayn mendekatkan wajahnya pada wajah Perrie. Diciumnya bibir Perrie dengan lembut.
========================================
Harry terlihat bahagia
pagi ini. Dia mendapat kabar dari Marcel kalau band mereka diundang dalam acara
peresmian mall milik om Marcel. Harry berencana akan mengejutkan Zayn dengan
berita ini.
“Yeah Zayn. You are a
lucker for my band”kata Harry dalam hati.
Berita Zayn dan Perrie
pacaran ternyata sudah meluas. Entah darimana datangnya. Saat masuk ke kelas
masing-masing keduanya ditodong anak-anak sekelas.
“Yang baru jadian,
traktiran dong”seru salah satu teman sekelas Zayn
“Lo makan aja sepuasnya
di kantin, nanti gue bayarin”kata Zayn
“Yang bener loooo?”
“Iya gue yang bayarin
tapi pake duit lo.”kata Zayn sambil tertawa.
Seluruh murid di kelas
Zayn menyorakinya. Zayn keluar kelas sambil tetap tertawa. Dilihat nya Perrie
dari atas keluar dari kelasnya juga. Zayn menuruni tangga dan menghampiri pacar
barunya itu.
“Haiiiii”sapa Zayn
“Eh Zayn bikin kaget
aja.”kata Perrie
“Hehe sori sayang.
Kelas kamu rebut banget. Ada apa sih?”tanya Zayn sambil menengok kelas Perrie
“Temen temen sekelas
aku pada minta pajak jadian aku sama kamu”jawab Perrie
“Loh ko sama? Temen
temen sekelas aku juga loh”
“Kok berita nya udah
langsung kesebar ya?”
“Mana aku tahu. Tapi
nggak masalah kan kalo satu sekolahan tahu?”
“Ya nggakpapa sih”
Gemma datang dan
memberikan selamat kepada dua temannya yang baru saja jadian itu. Sama seperti
yang lainnya Gemma meminta traktiran kepada mereka.
“CONGRATS YA MY
FRIENDS”teriak Gemma lalu memeluk Zayn dan Perrie.
Perrie melepas pelukan
Gemma diikuti Zayn.
“Makasih ya, Ma. Ini
berkat lo juga ka hehe”kata Zayn
“Berkat Gemma?”tanya
Perrie bingung
“Iya Zayn itu dateng
kerumah gue kemarin pagi. Dia bingung harus ngomong gimana sama lo”jelas Gemma
sedikit tertawa
“Ya ampun Zayn”kata
Perrie sambil tertawa diikuti Zayn dan Gemma.
“Pizza boleh dong?”goda
Gemma
“Boleh kok tapi bayar
sendiri”kata Zayn
“Huuuuu”sorak Gemma.
Harry, Ben, dan Marcel
sudah ada di depan sekolah Zayn. Siswi Tong High School melihat mereka sambil
senyam-senyum seperti melihat artis idola. Ben dan Marcel membalas senyum
mereka sedangkan Harry acuh dan tetap melihat ke dalam sekolah. Akhirnya orang
yang mereka tunggu datang juga.
“Eh guys kalian kok ada
disini?”tanya Zayn
“Iya kita mau kasih
kejutan buat lo”jawab Ben
“Kejutan? Gue nggak
lagi ulang tahun perasaan?
“Iya kejutan. Nggak
usah banyak nanya. Langsung masuk aja yuk ke mobil”kata Harry yang kayaknya
udah males liat cewek-cewek disitu yang mulai tebar pesona.
Di mobil Harry memberi
tahu Zayn tentang undangan om Marcel.
“Lusa band kita diundang
buat tampil di acara pembukaan mall milik om nya Marcel”
“Waw serius?
Alhamdulillah banget kalo gitu.”kata Zayn
“Iya. Sekarang kita mau
latihan. Lo bisa kan?”tanya Harry. Dia tahu Zayn sudah berhubungan dengan
Perrie maka nya dia nanya kayak gitu barangkali Zayn akan pergi dengan Perrie.
“Bisa kok bisa”jawab
Zayn bersemangat
Ben langsung menyarter
mobilnya dan berangkat menuju tempat dimana mereka biasa latihan.
========================================
“Kok pulangnya malem
banget sih Zayn?”tanya Mama Zayn.
“Iya Ma tadi aku abis
latihan band”jawab Zayn sambil melepas sepatunya
“Kamu punya band? Kok
ngga cerita cerita sih sama Mama?”
“Maaf ya Ma”
“Nggak apa apa kok
sayang. Mandi dulu gih terus makan bareng.”
“Siap Ma”
Zayn bergegas mandi dan
solat isya terlebih dahulu sebelum makan malam. Zayn menceritakan tentang
dirinya yang akan tampil bersama bandnya kepada keluarganya.
“Aku sama bandku bakal
tampil di pembukaan mall di Doncaster”kata Zayn
“Oh ya? Kapan?”tanya
Papa
“Lusa. Aku harap kalian
semua dateng”pinta Zayn
Waliyha,Doniya,dan
Safaa mengangguk mengiyakan. Mama dan Papa Zayn saling memandang. Papa
mengangkat alisnya.
“Zayn tahu kok pasti
Mama sama Papa nggak bisa dateng”kata Zayn sedikit kecewa
“Maafin kami ya
sayang”kata Mama
“Iya ma nggak apa apa
kok, zayn ngerti”
Zayn, Harry,Ben, dan
Marcel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar